Templates by BIGtheme NET
Home » Berita » Abrasi DAS Peusangan, Siapa Peduli?
Erosi terus terjadi di kawasan Daerah Aliran Sungai ( DAS) Krueng Simpo Lhok Majid dan Lhok Ara Gampong ( Desa) Tanjong Beuridi Kecamatan Peusangan Selatan, Bireuen (Beritalima.com)

Abrasi DAS Peusangan, Siapa Peduli?

Bireuen – Abrasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, Bireuen yang telah terjadi sejak pertengan 2014 lalu terkesan dibiarkan oleh Pemerintah Daerah (Pemkab) Bireuen. Padahal, akibat abrasi ini pemukiman warga di kawasan itu sangat terancam.

Abrasi DAS Peusangan telah menyebabkan infrastruktur jalan di Gampong Pulo Reudep, Kecamatan Kuta Blang amblas ke dalam sungai sekitar 5 meter, selain itu, jalan yang menghubungkan Desa Kulu – Blang Panjo juga terancam amblas kedalam sungai.

Selain infrastruktur jalan, abrasi DAS Peusangan juga mengancam pemukiman warga Blang Mee, Kuta Blang, dimana jarak antara DAS Peusangan dengan pemukiman warga hanya 5 meter, jika sewaktu – waktu debit air tinggi, abrasi meluas dan tidak tertutup kemungkinan pemukiman warga juga bakal menjadi DAS Peusangan.

Upaya pemerintah desa untuk melaporkan kondisi abrasi DAS Peusangan kepada Pemkab Bireuen baik melalui lisan maupun tulisan telah dilakukan, tapi sampai hari ini belum ada penanganan yang serius.

Informasi yang diterima juangnews.com dari warga setempat, sekitar Desember 2014 lalu, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen pernah turun ke lokasi untuk meninjau abrasi DAS Peusangan di Pulo Reudeup, Kulu, Blang Panjo dan Blang Mee, Kuta Blang.

Tetapi, sampai Maret 2015, pemerintah Desa Pulo Reudeup, Blang Mee, Kulu dan Blang Panjo belum mendapatkan informasi terkait tindak lanjut laporan pihaknya kepada pemerintah kabupaten, meskipun laporan telah masuk sebelum pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Bireuen 2015, sepengetahuan pihaknya, tidak ada item normalisasi DAS Peusangan pada dinas terkait tahun ini.

Sekretaris Desa Pulo Reudep, Busra, S.Pd yang dikonfirmasi media ini Senin, (23/3/2015) mengaku belum mendapatkan informasi terkait tindak lanjut BPBD Bireuen maupun dinas terkait lainnya untuk menangani abrasi DAS Peusangan yang telah menyebabkan jalan di desanya itu amblas ke dalam sungai sepanjang 5 meter.

“Tim BPBD sempat turun ke lokasi, namum sampai saat ini belum adanya informasi, apakah akan ditangani atau dibiarkan hingga musim penghujan tiba dan menghayutkan seluruh jalan yang menghubungkan Pulo Ruedep –Rancong, Kuta Blang,” katanya dengan nada kesal.

Ia mengaku, sempat mempertanyakan kembali kepada Kepala BPBD Bireuen, Asmara Hadi, ST.,MT perihal proposal yang ditujakan pihaknya yang turut disampaikan kepada Bupati Bireuen, H. Ruslan M. Daud. “

Saat saya menyampaikan hal ini, Bupati mengarahkan penanganan darurat kepada BPBD, namum setelah tim BPBD meninjau lokasi, sampai saat ini belum ada kabar, mungkin BPBD telah mempetieskan permohonan kami, atau memang tidak ada solusi dan menganggap remeh kondisi ini,” tambahnya.

Sementara Keuchik Blang Mee, Basri menambahkan, pihaknya juga menyampaikan kekecewaan yang mendalam terhadap Pemkab Bireuen yang tak kunjung menangani abrasi DAS Peusangan yang telah mengancam pemukiman warganya.

“Kami menginginkan tindak lanjut penanganan oleh pemerintah baik daerah maupun provinsi, karena ini sangat mendesak untuk ditangani
mengingat abrasi telah mengancam pemukiman warga, jangan sampai
pemukiman warga menjadi DAS,” katanya.

Menurut dia, jika tidak ditanggulangi saat ini, ke depan pemerintah harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menanggulangi abrasi. Pasalnya, puluhan rumah di sepanjang DAS Peusangan harus dipindahkan karena abrasi, mengingat yang bermukim di sana, mayoritas masyarakat miskin, sudah barang tentu pemerintah harus membantu.

“Kami sangat berharap, pemerintah mendengarkan jeritan penduduk kami yang bermukim di tepi DAS Peusangan. Semoga mereka tidak was – was dikala debit air sungai tinggi, apalagi hulu sungai Peusangan berada di Bener Meriah yang sering diguyur hujan,” harapnya.

Sementara Kepala BPBD Bireuen, Asmara Hadi  yang dikonfirmasi media ini via selulernya mengaku, pihaknya tidak bisa menangani abrasi DAS Peusangan karena penanganan  yang dilakukan BPBD sifatnya penanganan bencana.

“Karena penanganan abrasi DAS Peusangan harus adanya perencanaan, dan itu dilakukan oleh tim teknis, kami tidak bisa melaksanakan, karena bencana tidak bisa direncanakan, mungkin penanganan tersebut bisa diajukan kepada pemerintah provinsi atau pemerintah pusat,” terangnya. [juangnews.com/ 24 Maret 2015]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful