Templates by BIGtheme NET
Home » Kliping Media » Petani Di Cot Girek ‘dipersenjatai’ Meriam Karbit

Petani Di Cot Girek ‘dipersenjatai’ Meriam Karbit

LHOKSUKON – Sejumlah petani di Desa Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, kini ‘dipersenjatai’ meriam karbit sebagai satu-satunya alat dentuman untuk mengusir kawanan gajah liar. Mereka pun turun langsung dalam simulasi yang berlangsung di lapangan sepakbola Dusun Cot Girek Lama Desa Cot Girek, pada Rabu (20/12).

Tim Koalisi yang terdiri dari World Wildlife Fund (WWF) Perwakilan Indonesia, Forum DAS Krueng Peusangan (FDKP) dan Balai Syura Ureung Inoeng Aceh (BSUIA) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah Lhokseumawe. Sebelum puncak simulasi, Tim terlebih dahulu memberi pemahaman dalam teori.

“Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengusiran gajah liar yang memasuki areal perkebunan maupun pemukiman warga harus mempunyai jarak yang aman dari gajah. Pastikan, tingkah laku gajah juga tidak agresif pada saat pengusiran. Hati-hati melakukan pengusiran gajah jantan yang sedang Must atau sedang birahi, karena sering berprilaku mengamuk atau kegilaan maka lebih baik dihindari,” jelas Syamsuardi, selaku Education and Awareness Spesialist WWF Indonesia.

Dalam puncak simulasi, beberapa warga yang ‘dipersenjatai’ meriam karbit berhasil mengusir kawanan gajah liar keluar area perkebunan. Dalam adegan itu, salah satu dari masing-masing kelompok berperan sebagai gajahnya. Communication Officer WWF Indonesia Program Aceh, Chik Rini, mengatakan adegan itu adalah teknik bagaimana harusnya tim melakukan pengusiran gajah.

“Jadi orang itu ditutup matanya, dia tidak tahu kemana arah dan hanya mendengar instruksi dari suara. Sejak 2015 juga sudah dibuat pelatihan semacam ini untuk masyarakat, seperti di Krueng Sabee Aceh Jaya, Tangse, Ketol Aceh Tengah, Pintu Rime Gayo Bener Meriah, dan Bireuen,” ujar Chik Rini seraya menambahkan bahwa di Cot Girek juga merupakan salah satu kawasan rawan gajah liar.

Hal ini dibenarkan Pj Geuchik Desa Cot Girek, Samsul Hadi. “Sering sekali kawanan gajah liar memasuki areal perkebunan warga, salah satunya di Paket 14 Dusun Alue Buloh, Abong-Abong dan Bate Uleu. Jadi memang simulasi seperti ini sangat cocok kali ini dibuat di wilayah kita mengingat saat ini gajah liar masih berkeliaran,” kata Samsul Hadi kepada Waspada Online.

Sementara itu staf senior BKSDA Aceh wilayah konservasi Lhokseumawe, Nurdin, mengatakan Tim Koordinasi Penanggulangan Konflik bertugas membantu kepala daerah dalam mengurangi konflik manusia-satwa liar di Kabupaten, lintas Kabupaten dan Provinsi.

Konflik manusia-satwa liar, kata dia, adalah segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial manusia, ekonomi, kebudayaan dan pada konservasi satwa liar dan atau pada lingkungannya. Penanggulangan konflik manusia-satwa liar adalah proses dan upaya mengatasi untuk mengurangi konflik tersebut.[]

Sumber : kabarsatu.info

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful