Templates by BIGtheme NET
Home » Berita » Uni Eropa Tolak Produk Perkebunan Tidak Ramah Lingkungan

Uni Eropa Tolak Produk Perkebunan Tidak Ramah Lingkungan

Jakarta – Development Solutions Uni Eropa menolak produk yang tidak ramah lingkungan di pasar global. Hal ini disepakati dalam workshop yang diselenggarakan oleh Development Solutions Uni Eropa di Hotel Shangri-La Jakarta Kamis (10/8).

Kegiatan ini  menghadirkan 50 pemangku kepentingan yang mewakili organisasi non-pemerintah, klaster bisnis, organisasi buruh, aktor masyarakat sipil lainnya, dan organisasi internasional.

Dalam hal ini, Aceh Green Community (AGC) mendukung hasil perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) antara Uni Eropa dan Indonesia yang menolak produk pertanian yang merusak lingkungan di global.

“Kami mendukung hasil perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) antara Uni Eropa dan Indonesia yang menolak produk pertanian yang merusak lingkungan di pasar Eropa,” Kata Presidium AGC, Suhaimi Hamid

AGC juga mengharapkan Pemerintah Indonesia dan Aceh khususnya, untuk membuat kebijakan yang berlandaskan International Public Goods (IPGs) agar semua produk-produk masyarakat Aceh dapat di pasarkan di tingkat internasional.

“Setuju tidak setuju, FTA tetap dijalankan karena bagian dari komitmen perdagangan global.  Nah, dari sekarang kita harus mempersiapkan produk-produk masyarakat kita agar dapat bersaing dengan produk global,” tegas Suhaimi

Suhaimi berpendapat bahwa kita tertinggal jauh sekali dengan negara-negara  lain, apalagi di Uni Eropa. Maka sudah saatnya pemerintah secara bersama-sama harus mengejar ketertinggalan tersebut.

Uni Eropa dan Indonesia juga berkomitmen penuh terhadap isu-isu lingkungan dalam FTA, seperti budidaya sawit yang tidak ramah lingkungan. Untuk itu, organisasi masyarakat juga diharapkan harus melaporkan perusahaan-perusahaan sawit yang merusak lingkungan. Kemudian, produk-produk sawit tersebut akan ditolak di pasar Eropa.

“Sawit tidak diterima lagi di Uni Eropa apabila dalam proses budidaya terjadi perambahan hutan baik hutan lindung maupun hutan konservasi. Ini sudah disepakati dalam perjanjian perdagangan bebas,” tegas Suhaimi

Hasil dari Penilaian Dampak Berkelanjutan atau Sustainability Impact Assessments (SIAs) ini juga berpotensi memengaruhi dimensi ekonomi, sosial, hak asasi manusia dan lingkungan di masing-masing mitra dagang dan di negara-negara yang terkena dampak lainnya.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Development Solutions telah mengundang AGC dalam workshop penting ini. Hal ini senada dengan misi AGC untuk tidak mempromosikan produk pertanian tidak ramah lingkungan, perkebunan yang tidak melindungi kawasan tangkapan air, High Conservation Value (HCV) dan koridor satwa,” tutup Suhaimi. []

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful