Templates by BIGtheme NET
Home » Kliping Media » Suhaimi : Workshop Sawit yang Berkelanjutan Harus Menjawab Persoalan Lingkungan

Suhaimi : Workshop Sawit yang Berkelanjutan Harus Menjawab Persoalan Lingkungan

BANDA ACEH | Konflik lahan dan konflik satwa serta persoalan sosial merupakan sederetan persoalan yang dihadapi perusahaan sawit di Aceh, sehingga image negatif tersebut, perusahaan sawit seakan musuh bersama, terutama di kalangan penggiat lingkungan, padahal sawit merupakan produk domestik brutto (PDB) yang menyumbang pendapatan Indonesia.

“Suka tidak suka, sawit penyumbang PDB tertinggi di Indonesia, karena itu, tidak mungkin kita menolak keberadaan sawit,  persoalan lingkungan  yang disebabkan perusahaan sawit harus kita rumuskan solusi bersama tentang persoalan sawit di Aceh, baik di lansekap Peusangan, Jambo Aye dan Tamiang,” kata Ketua Umum Forum DAS Krueng Peusangan, Suhaimi Hamid pada pengantar Focus Group Discussion Pra Workshop Perkebunan Sawit Berkelanjutan, Selasa (4/9) di Grand Arabia Hotel, Banda Aceh.

Ia berharap, ketegangan yang selama ini terjadi antara perusahaan dengan penggiat lingkungan di Aceh harus diakhiri, melalui sebuah pertemuan para pihak yang difasilitasi Pemerintah Aceh.

“Regulasi yang mengantur tentang perkebunan, baik sawit maupun komoditi lainnya cukup banyak dan mengikat, karena itu penting bagi kita untuk memastikan regulasi itu berjalan sebagaimana mestinya, sehingga kewajiban perusahaan dan pemerintah dilaksanakan dengan baik,” harap Suhaimi.

Kata dia, perkebunan sawit yang berkelanjutan telah dirumuskan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 11/ Permentan/OT.140/3/2015 tentang Sistem Sertifikasi Kepala Sawit Berkelanjutan Indonesia.

“Kami berharap, pertemuan para pihak yang dikemas dalam Workshop Perkebunan Sawit Yang Berkelanjutan yang digelar ini dapat terlaksana dengan baik, sehingga melahirkan kesepakatan untuk perbaikan-perbaikan yang dilakukan perusahaan dan pemerintah kedepan,” harap Suhaimi.

Kata Suhaimi, untuk mengubah citra negatif perusahaan sawit terhadap lingkungan, maka perusahaan harus melindungi biodiversity, kawasan yang bernilai konservasi tinggi dan sumber air yang berada di area konsesi. Menurut dia, kewajiban ini yang harus dilakukan oleh perusahaan agar prinsip-prinsip sustainable diterapkan perusahaan.

Sementara Kepala Bidang Perbenihan, Produksi, dan Perlindungan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, SP., MP mengucapkan terima kasih kepada FDKP yang telah memfasilitasi pertemuan para pihak untuk membahas persoalan sawit di Aceh.

“Kami berharap, para pihak ikut membantu pemerintah Aceh dalam mewujdkan perkebunan sawit yang berkelanjutan, setidaknya kita bisa mendampingi beberapa perusahaan yang beroperasi di Aceh untuk mewujudkan perkebunan sawit yang berkelanjutan,” kata Azanuddin.

Ketua Komisi II DPR Aceh, Nurzahri yang hadir pada pertemuan itu juga mendukung rencana Workshop Perkebunan Sawit Berkelanjutan di Aceh.  Ia mengaku, persoalan anjloknya harga sawit harus dibahas pada pertemuan itu.

“Pada prinsipnya, kami mendukung setiap kegiatan yang dapat membawa manfaat bagi masyarakat, jika nanti dalam perjalanan harus di dukung dengan regulasi, kita juga siap sesuai dengan tugas dan fungsi kami DPR Aceh,” ucap Nurzahri.

Sekedar informasi, FGD Pra Workshop Perkebunan Sawit Yang Berkelanjutan di hadiri perwakilan BAPPEDA Aceh, Dinas LHK Aceh, Distanbun, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau, dan Asosiasi Pertani Kelapa Sawit Indonesia. Selain itu, FDKP juga mengundang pihak swasta, seperti Ivan Krisna, Muslahuddin Daud, Ikbal Farabi, dan M Yacob Ishadami untuk memberikan sumbangsih saran agar Workshop Perkebunan Sawit Yang Berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan baik.  []

 

 

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful